Dan kata-kata itu, telah kubiarkan menepi tanpa awak. Karena kurasa tak perlu berlama-lama mengarungi samudera kepedihan ini, apalagi sendirian. Kurasa aku tak cukup kuat.
Aku memang telah beranjak dan meninggalkan sepersekian nada sumbang di masa lalu itu. Tapi sejujurnya, memaafkan tak semudah itu. Iya kau tau, semua yang telah kutepis berkali-kali telah membuat keadaan makin menjadi. Namun apalah daya jika aku tak membutuhkan semua itu, sedangkan yang kudapat adalah keinginanku, bukan kebutuhanku.
Jangan pikir aku tak pernah berusaha membuatnya menjadi kembali baik. Aku bahkan sudah mencoba merangkai sisa-sisa asa itu hingga hari ini, namun aku belum juga menemukan ujungnya.
Aku pun sudah coba mengais sisa-sisa harap yang menumpuk di pelupuk mata. Namun tak ada yang tersisa. Semua hilang. Yang datang telah pergi dan yang pergi pun telah kembali datang. Jadi kurasa tak salah jika aku menyambut baik dahulu yang kembali sebelum melanjutkannya kan?
Aku ingin menjalani hariku seperti biasa. Ku anggap biasa. Dan harus terbiasa paling tidak sampai beberapa bulan ke depan. Karena aku sangat meyakini ini 100% bahwa Allah, Tuhan pencipta semesta raya, telah menyiapkan seonggok kejutan di balik hari ini. Dan aku, masih berusaha memaafkan hingga tulisan ini terbaca oleh siapapun. Aku tak ingin ada penghalang untuk hari cerahku nanti. Semoga saja.
Wednesday, 26 December 2018
Thursday, 9 August 2018
When the Sadness Come
Tak semua duka bisa terungkap. Tak semua juga yang bisa menjelma sebagai kata-kata dalam bait lara. Kadang kita hanya perlu diam, memendam segala perih batin dalam bungkaman bibir yang tersenyum. Membiarkan setiap luka yang sebenarnya sedang menggerogoti hati untuk sembuh sendiri.
Kadang kita perlu memahami, bahwa tak semua objek yang kita jadikan tempat berbagi duka adalah orang yang baik-baik saja, maksudku keadaan hati seseorang yang sesungguhnya tak mungkin kita ketahui bukan? Bahkan selembar kertas, langit malam, atau rinai hujan pun pasti menyimpan cerita dukanya sendirian.
Baiknya kita menyadari, sebuah bahagia berasal dari duka yang telah sirna. Begitu pula lara, bagaimana pun pasti akan ada ujung yang mengantarkannya pada kebahagiaan. Jadi santai saja, toh ia akan menemukan akhir kepedihannya. Tak usah terburu-buru menangisi sedu sedan yang ingin dilampiaskan. Ingatlah, waktu akan segera mengobatinya, menyatukan kembali pecahan kebahagiaan yang pernah melebur dalam tangismu. Tenang saja. Bersabar, dan jalani hidupmu. Maka kau akan menemukan senyum bahagiamu kembali.
Kadang kita perlu memahami, bahwa tak semua objek yang kita jadikan tempat berbagi duka adalah orang yang baik-baik saja, maksudku keadaan hati seseorang yang sesungguhnya tak mungkin kita ketahui bukan? Bahkan selembar kertas, langit malam, atau rinai hujan pun pasti menyimpan cerita dukanya sendirian.
Baiknya kita menyadari, sebuah bahagia berasal dari duka yang telah sirna. Begitu pula lara, bagaimana pun pasti akan ada ujung yang mengantarkannya pada kebahagiaan. Jadi santai saja, toh ia akan menemukan akhir kepedihannya. Tak usah terburu-buru menangisi sedu sedan yang ingin dilampiaskan. Ingatlah, waktu akan segera mengobatinya, menyatukan kembali pecahan kebahagiaan yang pernah melebur dalam tangismu. Tenang saja. Bersabar, dan jalani hidupmu. Maka kau akan menemukan senyum bahagiamu kembali.
Thursday, 8 March 2018
Menulis? Bisa jadi hobi yang menyenangkan lho..
Okay, ini postingan pertama dariku.
Sebenarnya cuma pengen sharing pengalaman doang sih. Yaa.. tentang gimana niat awalku buat jadiin kegiatan tulis menulis coret mencoretku ini sebagai hobi.
Aku memang bukan penulis.
Aku, seorang perempuan biasa yang menyukai harmoninya sebuah tulisan. Hari - hariku, bila kala ada waktu senggang, selalu ku isi dengan menuliskan satu dua kata kata puitis atau sekedar untuk menuliskan setiap jejak rasa yang sedang bergema dalam hati. *cieelah
Bukan cuma untuk mencurahkan segala perasaan yang tak menentu, tetapi dengan menulis aku merasa senang, bisa berbagi kepada setiap orang yang membacanya. Menulis pun kulakukan saat kegelisahan atau kejenuhan melanda. Yap, aku hanya mencoba membuat rasa gelisah atau pun jenuh itu menjadi lebih indah dan bisa menjadi kesenangan tersendiri kala aku sulit menemukan ide untuk tulisanku.
Selain menulis, aku juga sangat sangat amat cinta membaca.
Apalagi membaca hal yang berbau fiksi. Jika aku sudah memegang sebuah novel atau pun membuka aplikasi Wattpad dan bersandar di kursi ternyamanku, mungkin harus butuh ratusan kali untuk menyuruhku melakukan kegiatan lain. Contohnya saja ibuku. Tiap kali ia memanggilku untuk menyuruhku melakukan sesuatu disaat aku sedang bersantai dengan novelku, tak jarang ia kesal dan memarahiku karena aku tak kunjung beranjak dari tempat dudukku.
Hmm... kadang - kadang aku berdosa sekali, ya. Tapi memang sulit rasanya ketika kita sedang seru dan asyik - asyiknya membaca buku tiba - tiba harus melepaskan cerita itu karena suatu hal yang nyatanya memang lebih penting sih. Hahaha... atau mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu, ya?
Jika kau membolehkan aku memilih kado apa yang aku inginkan sebagai hadiah ulang tahunku, kau tahu aku akan memilih apa? Yepp, novel! Jangan ditanya kenapa aku bisa sebegitu cintanya pada hal berbau fiksi, karena aku pun tak tahu wkwk. Okay, ku akui novel bukan satu satunya benda yang memuat unsur fiksinya, tapi ku pikir novel yang lebih dominan ku favoritkan. Kau tahu? Bahkan bau aroma khas kertas buku novel pun aku sangat amat menyukainya. Mungkin terkesan aneh, tapi itulah adanya. Oke, maafkan, jangan timpuk aku! #plak
Oh, iya. Selain fiksi, aku juga sangat amat cinta sekali pada dunia psikologi. Aku rasa dengan membacanya kau akan mendapat banyak sekali ilmu yang penting, paling tidak bagiku sendiri, ya. Terutama tentang tingkah laku manusia sehari - hari. Aku juga suka mempelajari bagaimana cara seseorang menyelesaikan suatu masalah dengan baik, melihat karakter seseorang dari caranya berjalan ataupun menulis, mengetahui sifat seseorang dari warna kesukaan dan gambar yang ia sukai, bahkan membaca kepribadian seseorang hanya dengan menjawab sedikit soal tes psikologi. Tentunya dari buku - buku psikologi, hal seperti itu akan aku dapatkan.
Apakah aku terkesan seperti kutu buku?
Ku rasa tidak. Dengan penampilanku yang... yeah, agak 'seenak jidat' ini, mungkin tak akan terlintas di benak seseorang bahwa aku pencinta buku, novel terutama. Tak ada kesan kutu buku yang secara penampilan, rapi, agak cupu, bajunya dimasukkan ke dalam celana (oke, yang ini jelas tidak kulakukan), menenteng setumpuk buku di tangannya, atau pun ciri khas sang kutu buku yang biasa di ceritakan dalam novel itu, sama sekali gak menyangkut pada diriku.
Pakaianku malah agak 'sembarangan'. Yaa.. sembarangan menurutku sih, tapi tentunya tidak di mata orang tuaku. Aku lebih suka mengenakan sepan jeans bila berpergian, karena bagiku hanya jeans yang sangat simple untukku pakai. Apalagi aku ini orangnya agak malas dengan yang ribet - ribet. Membuat kepalaku pusing sendiri. Juga kemeja. Aku suka memakainya karena... yeah, simple. Tapi semenjak tamat sekolah, aku lebih banyak di belikan baju yang agak feminim, tapi tetap tak ada roknya. Mungkin contohnya seperti baju oversize dengan lengan lonceng yang sedang booming di kalangan hijabers fashionista, elah bahasanya.
Aduh, kenapa jadi melenceng ke penampilanku, ya?
Apa boleh buatlah, sudah terketik. Kata editor di sinetron - sinetron sih... dibuang sayang hehe..
Okay, kembali ke topik! Sebenarnya kalau untuk puisi aku sudah menyukainya sejak SD. Tapi yaa... belum ada karya yang ku publikasi sampai aku mengenal aplikasi bernama Wattpad. Yap, si dunia oren ini sangattt amattt membantu diriku untuk menyalurkan bakat terpendamku yang pernah terkubur lama, cieelah bahasanya.
Agak sayang ya, karena aku baru mengenalmu saat aku mulai kuliah wahai Wattys, hiks...
Tapi tak apa, aku malah sangat bersyukur sekali. Di dalam Wattpad ini banyak sekali cerita - cerita dari penulis terkenal yang tentu tulisannya bagus - bagus. Banyak pula yang menjadikan Wattpad sebagai ajang penyaluran bakat terpendam, contohnya ya aku. Ada juga yang hanya menikmati hasil tulisan para author dengan santainya di sudut ruangan dekat jendela, ditemani secangkir kopi panas dan hembusan angin sepoi - sepoi di sore hari. #plak
Terkadang aku sengaja menyimpan cerita para author itu offline agar bisa ku jadikan inspirasi dalam membuat karangan cerita. Eittss.. tapi bukan plagiat loh ya. Bukan hanya itu, tapi juga aku sering mengambilnya untuk kesenangan tersendiri, seperti buku tentang ilmu psikologi itu. Aku juga membacanya untuk mempelajari cara menulis yang baik dan benar. Apalagi nih, ya, masalah tanda baca dan paragraf sepertinya aku masih sering keliru, tapi tak buta - buta amatlah ya wkwk...
Aku memang menulis sesuka hatiku. Kapan saja, dimana saja, dan apa saja yang kutulis, semuanya bergantung dari suasana hatiku. Hmm, yaa.. mungkin aku lebih tepatnya disebut moody-an, karena moodku yang suka amburadul naik turun seenak jidatnya itu tentunya. Sebenarnya tak baik sih seperti itu, tapi aku hanya menikmatinya saja, kemana moodku berlayar, disitu tulisanku berwujud, oke gak jelas. #plaklagi.
Terkadang juga aku selalu semangat bila ada yang memotivasiku. Baru - baru ini aku pun mempunyai teman yang ternyata hobinya sama denganku; menulis. Ia bahkan tak segan untuk menulis caption di postingan media sosialnya dengan kata - kata puitis ala roman picisan. Haha.. sebagian orang mungkin gagal paham, geli, atau bahkan ada yang muntah mungkin? Ehehe... tidak semuanya sih, ada banyak juga yang mengerti maksud tulisannya. Contohnya aku. Aku justru sangat suka dengan puisi ala roman picisannya itu. Eh, ku rasa tidak picisan, itu malah berharga dan keren sekali menurutku! Dia bahkan menyimpan lebih banyak kosa kata di otaknya, dari pada aku hiks...
Awal kami berkenalan, entah kenapa rasanya 'nyambung' sekali saat membahas masalah tulis menulis dengannya. Sampai - sampai dia menyemangatiku untuk menerbitkan sebuah novel dalam beberapa bulan ini. Entahlah akan terealisasi atau tidak, tapi aku sedang berada dalam proses itu tentunya. Jujur saja, aku menjadi jauhhhh lebih semangat setelah ada motivasi darinya, mungkin baginya bukan motivasi, tapi hanya sekadar ucapan yang membuat topik obrolan kami menjadi lebih seru.
Ya... intinya asyiklah..
Mungkin tak salah jika aku berniat mengubah cita - citaku menjadi seorang penulis hebat dan terkenal suatu saat nanti dengan karyaku yang sudah jauh lebih baik tentunya. (Aaminn)
Saranku nih ya.. buat kamu yang punya bakat terpendam menulis atau punya hobi menulis untuk sekadar mengisi waktu luang, coba di tekunin deh. Lagian seru tau. Coba aja jadi penulis amatiran di Wattpad dulu. Karena dari sana kamu bisa dapat kritik dan apapun itu yang bisa membuat kamu belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi dalam tulisanmu.
Kamu juga bisa melihat bagaimana respon pembaca terhadap tulisanmu. Jika ada pujian dari mereka, pastinya itu akan menjadi motivasi untukmu dalam menulis. Kamu juga bisa menemukan teman yang sama - sama menyukai genre yang sama sepertimu, misalnya puisi mungkin?
Eh, yaampun baru nyadar kalo kata - kataku diatas kaku banget yak? :v
Kayaknya tulisanku udah panjang banget, ya? (*elap keringat di jidat*)
Dan bahasanya... yeah, tambah ke bawah tambah absurd... Itu sih karena aku terlalu menikmati menulisku ini, sampe sampe gak tau lagi apa yang lagi diomongin.:v
Lagi - lagi aku nulis kayak gini karena lagi mood nulis doang. Tapi sebetulnya niat awalnya iseng aja sih #plak.
Tapi semoga bermanfaat ya buat kalian yang sama - sama punya hobi nulis ataupun yang baru mulai pengen punya hobi nulis...
Salam hangat dari seorang penulis amatir yang tulisannya masih acakadul bin amburadul dan tak terkira lagi berantakannya ini.
Thank for reading :)
Sebenarnya cuma pengen sharing pengalaman doang sih. Yaa.. tentang gimana niat awalku buat jadiin kegiatan tulis menulis coret mencoretku ini sebagai hobi.
Aku memang bukan penulis.
Aku, seorang perempuan biasa yang menyukai harmoninya sebuah tulisan. Hari - hariku, bila kala ada waktu senggang, selalu ku isi dengan menuliskan satu dua kata kata puitis atau sekedar untuk menuliskan setiap jejak rasa yang sedang bergema dalam hati. *cieelah
Bukan cuma untuk mencurahkan segala perasaan yang tak menentu, tetapi dengan menulis aku merasa senang, bisa berbagi kepada setiap orang yang membacanya. Menulis pun kulakukan saat kegelisahan atau kejenuhan melanda. Yap, aku hanya mencoba membuat rasa gelisah atau pun jenuh itu menjadi lebih indah dan bisa menjadi kesenangan tersendiri kala aku sulit menemukan ide untuk tulisanku.
Selain menulis, aku juga sangat sangat amat cinta membaca.
Apalagi membaca hal yang berbau fiksi. Jika aku sudah memegang sebuah novel atau pun membuka aplikasi Wattpad dan bersandar di kursi ternyamanku, mungkin harus butuh ratusan kali untuk menyuruhku melakukan kegiatan lain. Contohnya saja ibuku. Tiap kali ia memanggilku untuk menyuruhku melakukan sesuatu disaat aku sedang bersantai dengan novelku, tak jarang ia kesal dan memarahiku karena aku tak kunjung beranjak dari tempat dudukku.
Hmm... kadang - kadang aku berdosa sekali, ya. Tapi memang sulit rasanya ketika kita sedang seru dan asyik - asyiknya membaca buku tiba - tiba harus melepaskan cerita itu karena suatu hal yang nyatanya memang lebih penting sih. Hahaha... atau mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu, ya?
Jika kau membolehkan aku memilih kado apa yang aku inginkan sebagai hadiah ulang tahunku, kau tahu aku akan memilih apa? Yepp, novel! Jangan ditanya kenapa aku bisa sebegitu cintanya pada hal berbau fiksi, karena aku pun tak tahu wkwk. Okay, ku akui novel bukan satu satunya benda yang memuat unsur fiksinya, tapi ku pikir novel yang lebih dominan ku favoritkan. Kau tahu? Bahkan bau aroma khas kertas buku novel pun aku sangat amat menyukainya. Mungkin terkesan aneh, tapi itulah adanya. Oke, maafkan, jangan timpuk aku! #plak
Oh, iya. Selain fiksi, aku juga sangat amat cinta sekali pada dunia psikologi. Aku rasa dengan membacanya kau akan mendapat banyak sekali ilmu yang penting, paling tidak bagiku sendiri, ya. Terutama tentang tingkah laku manusia sehari - hari. Aku juga suka mempelajari bagaimana cara seseorang menyelesaikan suatu masalah dengan baik, melihat karakter seseorang dari caranya berjalan ataupun menulis, mengetahui sifat seseorang dari warna kesukaan dan gambar yang ia sukai, bahkan membaca kepribadian seseorang hanya dengan menjawab sedikit soal tes psikologi. Tentunya dari buku - buku psikologi, hal seperti itu akan aku dapatkan.
Apakah aku terkesan seperti kutu buku?
Ku rasa tidak. Dengan penampilanku yang... yeah, agak 'seenak jidat' ini, mungkin tak akan terlintas di benak seseorang bahwa aku pencinta buku, novel terutama. Tak ada kesan kutu buku yang secara penampilan, rapi, agak cupu, bajunya dimasukkan ke dalam celana (oke, yang ini jelas tidak kulakukan), menenteng setumpuk buku di tangannya, atau pun ciri khas sang kutu buku yang biasa di ceritakan dalam novel itu, sama sekali gak menyangkut pada diriku.
Pakaianku malah agak 'sembarangan'. Yaa.. sembarangan menurutku sih, tapi tentunya tidak di mata orang tuaku. Aku lebih suka mengenakan sepan jeans bila berpergian, karena bagiku hanya jeans yang sangat simple untukku pakai. Apalagi aku ini orangnya agak malas dengan yang ribet - ribet. Membuat kepalaku pusing sendiri. Juga kemeja. Aku suka memakainya karena... yeah, simple. Tapi semenjak tamat sekolah, aku lebih banyak di belikan baju yang agak feminim, tapi tetap tak ada roknya. Mungkin contohnya seperti baju oversize dengan lengan lonceng yang sedang booming di kalangan hijabers fashionista, elah bahasanya.
Aduh, kenapa jadi melenceng ke penampilanku, ya?
Apa boleh buatlah, sudah terketik. Kata editor di sinetron - sinetron sih... dibuang sayang hehe..
Okay, kembali ke topik! Sebenarnya kalau untuk puisi aku sudah menyukainya sejak SD. Tapi yaa... belum ada karya yang ku publikasi sampai aku mengenal aplikasi bernama Wattpad. Yap, si dunia oren ini sangattt amattt membantu diriku untuk menyalurkan bakat terpendamku yang pernah terkubur lama, cieelah bahasanya.
Agak sayang ya, karena aku baru mengenalmu saat aku mulai kuliah wahai Wattys, hiks...
Tapi tak apa, aku malah sangat bersyukur sekali. Di dalam Wattpad ini banyak sekali cerita - cerita dari penulis terkenal yang tentu tulisannya bagus - bagus. Banyak pula yang menjadikan Wattpad sebagai ajang penyaluran bakat terpendam, contohnya ya aku. Ada juga yang hanya menikmati hasil tulisan para author dengan santainya di sudut ruangan dekat jendela, ditemani secangkir kopi panas dan hembusan angin sepoi - sepoi di sore hari. #plak
Terkadang aku sengaja menyimpan cerita para author itu offline agar bisa ku jadikan inspirasi dalam membuat karangan cerita. Eittss.. tapi bukan plagiat loh ya. Bukan hanya itu, tapi juga aku sering mengambilnya untuk kesenangan tersendiri, seperti buku tentang ilmu psikologi itu. Aku juga membacanya untuk mempelajari cara menulis yang baik dan benar. Apalagi nih, ya, masalah tanda baca dan paragraf sepertinya aku masih sering keliru, tapi tak buta - buta amatlah ya wkwk...
Aku memang menulis sesuka hatiku. Kapan saja, dimana saja, dan apa saja yang kutulis, semuanya bergantung dari suasana hatiku. Hmm, yaa.. mungkin aku lebih tepatnya disebut moody-an, karena moodku yang suka amburadul naik turun seenak jidatnya itu tentunya. Sebenarnya tak baik sih seperti itu, tapi aku hanya menikmatinya saja, kemana moodku berlayar, disitu tulisanku berwujud, oke gak jelas. #plaklagi.
Terkadang juga aku selalu semangat bila ada yang memotivasiku. Baru - baru ini aku pun mempunyai teman yang ternyata hobinya sama denganku; menulis. Ia bahkan tak segan untuk menulis caption di postingan media sosialnya dengan kata - kata puitis ala roman picisan. Haha.. sebagian orang mungkin gagal paham, geli, atau bahkan ada yang muntah mungkin? Ehehe... tidak semuanya sih, ada banyak juga yang mengerti maksud tulisannya. Contohnya aku. Aku justru sangat suka dengan puisi ala roman picisannya itu. Eh, ku rasa tidak picisan, itu malah berharga dan keren sekali menurutku! Dia bahkan menyimpan lebih banyak kosa kata di otaknya, dari pada aku hiks...
Awal kami berkenalan, entah kenapa rasanya 'nyambung' sekali saat membahas masalah tulis menulis dengannya. Sampai - sampai dia menyemangatiku untuk menerbitkan sebuah novel dalam beberapa bulan ini. Entahlah akan terealisasi atau tidak, tapi aku sedang berada dalam proses itu tentunya. Jujur saja, aku menjadi jauhhhh lebih semangat setelah ada motivasi darinya, mungkin baginya bukan motivasi, tapi hanya sekadar ucapan yang membuat topik obrolan kami menjadi lebih seru.
Ya... intinya asyiklah..
Mungkin tak salah jika aku berniat mengubah cita - citaku menjadi seorang penulis hebat dan terkenal suatu saat nanti dengan karyaku yang sudah jauh lebih baik tentunya. (Aaminn)
Saranku nih ya.. buat kamu yang punya bakat terpendam menulis atau punya hobi menulis untuk sekadar mengisi waktu luang, coba di tekunin deh. Lagian seru tau. Coba aja jadi penulis amatiran di Wattpad dulu. Karena dari sana kamu bisa dapat kritik dan apapun itu yang bisa membuat kamu belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi dalam tulisanmu.
Kamu juga bisa melihat bagaimana respon pembaca terhadap tulisanmu. Jika ada pujian dari mereka, pastinya itu akan menjadi motivasi untukmu dalam menulis. Kamu juga bisa menemukan teman yang sama - sama menyukai genre yang sama sepertimu, misalnya puisi mungkin?
Eh, yaampun baru nyadar kalo kata - kataku diatas kaku banget yak? :v
Kayaknya tulisanku udah panjang banget, ya? (*elap keringat di jidat*)
Dan bahasanya... yeah, tambah ke bawah tambah absurd... Itu sih karena aku terlalu menikmati menulisku ini, sampe sampe gak tau lagi apa yang lagi diomongin.:v
Lagi - lagi aku nulis kayak gini karena lagi mood nulis doang. Tapi sebetulnya niat awalnya iseng aja sih #plak.
Tapi semoga bermanfaat ya buat kalian yang sama - sama punya hobi nulis ataupun yang baru mulai pengen punya hobi nulis...
Salam hangat dari seorang penulis amatir yang tulisannya masih acakadul bin amburadul dan tak terkira lagi berantakannya ini.
Thank for reading :)
Monday, 12 February 2018
Kisah Getir Hujan
Segelintir kisah dibalik hujan
Telah kusiratkan pada malam
Bertabir gulita dan gemerlap bintang
Ia bersenandung dengan laranya
Dihadapan siluet mega tebal
Ia berangan menemui cahayanya
Kubiarkan ia berharap pada rembulan
Tuk mengantarnya pada kilau pagi
Aku berdesir
Menatap kisah getir
Yang merindu kilau pagi dan pelanginya
~
Feb'18
Amanda Shav
Subscribe to:
Comments (Atom)
Harap dan Semoga
Dan kata-kata itu, telah kubiarkan menepi tanpa awak. Karena kurasa tak perlu berlama-lama mengarungi samudera kepedihan ini, apalagi sendir...
